Menjelajah dengan Karya (Episode 3): Gak Ada Kata Sia-sia dalam Perjuangan

Sejak kelas 2 SMA, ada satu moto yang selalu kutanamkan di benakku, man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Episode ketiga dalam penjelajahanku kali ini membuatku benar-benar mengerti makna dari moto ini. Oh iya, harusnya tulisan ini udah dipost sejak lama, tapi ada beberapa hal yang bikin mandeg di tengah jalan hehe. Semoga kisah ini bisa jadi penyemangat buat kalian yang sedang berjuang, kok bisa? Ya dong, karena ketika mengenang perjuangan buat mencapai suatu hal, kita bakal ngerasain semangat yang di-booster, berasa kaya’ disetrum gitu (hiperbola ya wkwk).

Tahun 2019, untuk kedua kalinya aku mengarungi lautan awan (read: naik pesawat). Lagi-lagi, tujuannya hanya satu, menjelajah dengan karya. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, masih dengan tim yang sama dan belum punya nama, kini kami berangkat sendiri, tanpa kakak tingkat yang menemani. Pengumuman yang kami terima kala itu benar-benar membuat gamang, pasalnya kami harus memilih di antara dua lomba, satu ke Solo dan yang lain ke Riau. Keduanya sama-sama masuk final. Setelah pertimbangan yang cukup panjang, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan presentasi di Riau. Bisa kukatakan penjelajahan ini menjadi penjelajahan yang paling nekat, sebab banyak sekali halangan dan rintangan yang harus dihadapi.

Pertama, saat itu kami sama-sama tak punya dana, jangankan untuk membeli tiket pesawat, membayar pendaftaran pun kami benar-benar bingung. Semua dana tabungan, pinjaman, hingga uang bidikmisi salah satu anggota tim kami telah digunakan, namun masih tak cukup untuk meng-cover seluruh biaya. Alhasil reski berinisiatif untuk menghubungi katingnya, mahasiswa bidikmisi yang menjadi agen penjualan tiket pesawat. Setelah kegelisahan cukup panjang, nyatanya kami masih tergolong beruntung, sebab kakaknya bilang, “kalian fokus aja lombanya dek, untuk biaya pesawat pakai uang kakak dulu, nanti diganti pas kalian selesai lomba”. Masya Allah.. bayangin, di saat itu kami bingung sebingungnya, dana fakultas belum cair dan pesawat udah harus di-booking, semakin mendekati hari H, harga tiket semakin mahal. Rasanya tuh alhamdulillah, urusan tiket pesawat beres.

Kedua, masalah perizinan. Saat itu kami bagi tugas, Rian yang urus proposal pendanaan ke fakultas, kami urus perizinan, minta surat dispensasi di jurusan. Nah lagi-lagi, kesungguhan niat kami diuji, niatnya pengin minta izin, malah disangka mau minta dana dan dikritik karena ikut lomba gak bilang-bilang. Pokoknya kalo inget kejadian ini, rasanya benar-benar down dan hasilnya kami tetap berangkat meski tanpa surat izin, please ini jangan ditiru ya hehe. Saat itu posisinya memang lagi urgent dan membuat kami terpaksa melakukan itu. Kami keluar dari ruangan dengan perasaan sedikit kecewa, di sisi lain, ada energi positif yang merasuki diri kami, seolah-olah ada yang bilang “kita gak boleh diremehin dan harus buktiin kalo kita bisa”. Seakan-akan kata-kata yang diucapkan oleh mereka tadi merupakan sebuah tantangan yang harus kami tuntaskan. Beruntung, teman-teman di jurusan begitu banyak memberi support ke kami bahkan sampai bersedia memberi kabar terkait beberapa mata kuliah yang terpaksa kami korbankan.

Ketiga, sehari sebelum keberangkatan, Reski menginap di tempatku, sebab lokasi rumahku tak jauh dari bandara. Disini, problem lain menimpa kami, handphone Reski terjatuh saat menaiki DAMRI. Sabar ya ki hehe, yang penting sekarang udah dapet ganti yang lebih baik hehe.  

Keempat, sebenarnya di waktu yang sama, kami bertiga merupakan penanggung jawab penting sebuah acara perlombaan nasional yang diadakan salah satu organisasi di fakultasku. Berat untuk memutuskan tetap pergi, akhirnya amanah di fakultas kami percayakan untuk sementara kepada teman-teman yang bisa menggantikan. Maaf ya yang waktu itu direpotkan, meskipun begitu dari jarak jauh masih kami usahakan untuk handle juga.

Oh iya, mungkin ini lomba pertama kami pake dosen pembimbing, meskipun tak begitu intens, tapi Pak Ferdinand dengan sabar membimbing kami, lebih tepatnya Rian sih yang banyak konsultasi ke bapaknya sebab ia lebih mudah untuk mobilisasi hehe. Kalau ingat perjuangannya, balik dari konsul dengan Pak Dinan, dia juga ambil pointer dan kehujanan. Rada lucu kalo diinget-inget hehe.

Kelima, beberapa hari terakhir sebelum keberangkatan bahkan sampai ketika di Riau, kami manfaatkan untuk latihan, “Yan, Ki, masih inget gak kita pinjem sekret buat latihan dan bikin pantun tepat satu hari sebelum berangkat? wkwk”.

Keenam, saat itu kami kebagian penerbangan dengan pesawat lion air, padahal beberapa minggu sebelumnya dikabarkan ada kecelakaan pesawat dengan jenis yang sama. Rada takut buat berangkat, tapi coba ngeyakinin diri, umur kita udah kecatet di Lauh Mahfuz.

Entah kenapa, meskipun banyak sekali rintangan, tetapi selalu saja ada jalan keluar. Ternyata janji Allah memang benar, “Dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan”. Alhamdulillah berkat bantuan pak Mamat dan hasil lobbying Rian akhirnya dana dari fakultas cair sebagian, cukup untuk uang berjaga-jaga saat kami di Riau.

(Hari keberangkatan)

Jikalau boleh jujur, dari seluruh penjelajahanku, ini yang terberat, serius. Kami pergi dengan membawa setumpuk kepercayaan dari orang-orang yang support kami sampe bilang “kita yakin kok kalian pasti menang, bisa” sekaligus tantangan dari beberapa pihak yang sempat meremehkan. Banyak yang terpikirkan saat itu, gimana ya nanti hasilnya? tapi pikiran itu terus kami usahakan buang jauh-jauh, yang penting usaha dulu, Allah pasti kasih yang terbaik.

Pada perjalanan kali ini, kami dapet bonus hehe, jalan-jalan ke Batam, karena pesawat harus transit dulu di Batam. Ada kejadian lucu nih, jadi ceritanya, Rian itu pas sampe di Batam langsung kebagian jadwal penerbangan ke Riau, sedangkan aku dan Reski harus menunggu beberapa jam untuk penerbangan berikutnya karena kehabisan tiket, untung ya di Batamnya sama Reski. Rian pernah tinggal di Riau dan kakaknya di sana, so dia bakal tetap aman kalo sampe duluan, Reski punya sepupu di Batam jadi kita bisa diajak keliling bandara deh sekalian mereka temu kangen. Walaupun cuma keliling-keliling Bandara, tapi lumayan lah cuci mata dan istirahat bentar di Batam. Nah dimana kejadian lucunya? Wkwk. Sesampainya di Riau, Rian cerita kalo pas di pesawat dia kebagian duduk deket jendela, kan kursi pesawat ada tiga, nah dua kursi di sampingnya itu didudukin sama pengantin baru. Haha. Ya Allah gak kebayang gimana saltingnya dia saat itu.

(Hari perlombaan)

Pejuang KTI versi alay

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan kami untuk meminta doa restu dari orang tua sebelum tampil, percaya deh ini ngaruh banget. Aku gak akan cerita banyak disini takut bosen wkwk. Saat itu kita dapet giliran tampil habis ashar, alhamdulillah cukup tenang karena habis sholat setelah sebelumnya kami sempat gugup tapi mencoba terlihat biasa aja haha. Kita tampil dengan lancar tanpa terbata-bata dan alhamdulillah kritik dari juri cukup membangun dan mungkin lebih banyak cerita saking asiknya, untung ada time keeper yang mengingatkan, kasihan kan peserta lain mau tampil juga hehe. Dengan gaya khas Rian yang always pe-de duluan, “aku yakin, kita menang”.

Versi Formal
versi apa aja haha

(Hari pengumuman)

Pengumuman dibuka dengan sambutan dari dekan FEB Unri, ternyata begitu besar support kampus disini untuk kegiatan mahasiswa, sampai didanain ratusan juta. Jadi wajar aja, kalo acaranya saat itu lancar luncur dan keren banget dah. Tibalah saatnya pengumuman, juara 3 lewat, juara 2 ternyata mahasiswa dari Jawa, duh mulai deg-degan nih, dapet gak ya, jeng jeng jeng.. juara Pertama “Universitas Sriwijaya”. Bles pecah lagi, air mata tuh mau ditahan tapi tumpah gitu aja. Saking inget gimana beratnya perjuangan yang dilaluin sampe di titik ini, speechless, hampir-hampir gak percaya rasanya. Hal yang paling kuingat adalah ketika penyerahan hadiah, kita naik ke atas, dan pak dekan langsung kasih selamat, sampai beliau bilang “Dari unsri ya, selamat ya, kalian hebat, bisa lah suatu saat nanti mungkin kalian daftar jadi dosen disini” katanya sambil tersenyum. Allah tuh Maha Baik banget ya ternyata.

Ucapan selamat mulai berdatangan, termasuk dari Pak Mamat yang saat itu ternyata beliau dirawat, mau dijengukin tapi bapaknya gak mau kasih tau nama rumah sakitnya dan cuma kirim foto beliau doang ke WA Rian hihi. Pak Mamat merupakan orang yang berjasa membantu kami dalam urusan proposal pendanaan.

Foto di podium (lagi)

Riau bukan saja menjadi tempat perlombaan bagi kami, tapi juga mengajarkan banyak pelajaran berharga. Panitia yang begitu ramah dan LO yang sangat-sangat luar biasa. Meski di Riau, sebenarnya juga berasa kaya’ di Padang, karena LO kami orang padang, bener kata uni Naima, beko taragak bana (bakal kangen banget), dan sekarang aku benar-benar rindu kalian.

Universitas Riau juga banyak memberikan inspirasi bagiku, setiap jengkal wilayah universitasnya begitu produktif, lahan-lahan kosong dimanfaatkan menjadi kebun milik universitas dan mirip-mirip tempat wisata (ada jembatan kupu-kupu), dan tahukah kalian? Unri juga punya rumah sakit sendiri. Keren sih. Kalau saja lahan di universitas tempatku mengenyam pendidikan ini juga dimanfaatkan sedemikan rupa hehe.

Kisah di Riau tak berhenti sampai setelah pengumuman, setiap harinya begitu sulit dilupakan, bahkan setelah pengumuman kami dapat teman baru, temen sma-nya si Rian yang juga… (apa aja deh sst) hehe. Karena gak mungkin aku dan Reski ikut Rian menginap di tempat kakaknya, so dia minta tolong sama temennya, Rani dan Dara untuk menampung kami berdua selama semalam. Mereka benar-benar baik, sampai rela jemput pakai motor, antar ke tempat oleh-oleh dan hujan-hujanan keesokan harinya. Makasih dar, ran.. semoga suatu saat kita bisa kembali berjumpa.

Penjelajahan di Riau ditutup dengan sedikit kisah lucu yang agak dramatis, karena aku dan Reski hampir saja ketinggalan pesawat, udah lewat waktu check-in ternyata, padahal kita udah bangun pagi-pagi tapi jalanan benar-benar macet karena hujan semalam. Malu juga dipanggil-panggil di pengumuman wkwk. Tapi bodo amatlah, toh orang lain juga gak tau kami siapa. Beruntung, pesawat masih bisa menunggu. Rian sampe bilang “tau gak, aku takut nian tadi. Kalo kalian ketinggalan pesawat, aku ngebayangin udah pasrah aja apa uang hadiah itu aku kasih aja ke kalian biar bisa pulang” wkwk.

Foto bersama Pak Dian Eka, WD3 FE Unsri 2019

Selang beberapa hari setelahnya, kami ke ruang dekan, sayangnya Reski gak bisa ikut kala itu. Piala kita kini udah jadi salah satu peninggalan yang akan kita kenang nanti. Oh iya, tau gak gimana kabar yang ngeremehin kita tadi? Beliau mengucapkan selamat juga hehe. Alhamdulillah ya. Lucu juga wkwk. Selesai. Duh panjang amat yak, maaf ya. Tapi intinya adalah

“Kita harus percaya bahwa setiap perjuangan tak akan pernah berakhir sia-sia. Yakin deh, Allah pasti akan memberikan sesuatu sesuai apa yang kita usahakan, apa yang kita niatkan. Ketika kita lagi hilang semangat, perjuangan kita buat menggapai hal itu lah yang akan jadi booster buat mengembalikan semangat itu. Inget orang-orang yang support kita, doa mereka, semangat mereka, semuanya… kita gak mungkin sampai di tahap ini sendirian. Semangattt”

9 Comments Add yours

  1. Begitulah ya, kalo udah rejeki pasti ada aja cobaanya.. Tetep semangat maya and the geng 😀

    Like

  2. Rein says:

    Yups, Kaptenku juga sering banget bilang bahwa tak ada yang namanya sia-sia dalam hidup ini 🙂

    Like

  3. rani oktapiani says:

    Terngiang “Dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan” 🙂
    Dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan

    Liked by 1 person

  4. Dodo Nugraha says:

    Waah keren. Bisa ikutan lomba terus nih

    Liked by 1 person

  5. Riau meninggalkan banyak kenangan yah. Jadi bernostalgia lagi wkwk

    Liked by 1 person

  6. keren maya, inspiring banger

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s