Bedah Puisi C.I.(N).T.A

Assalamu’alaikum gais, hehe. Kali ini aku mau bedah puisi, baru liat ya orang nge-bedah puisi, biasanya juga bedah buku wkwk. Tapi gak apa-apa, biar beda cielah. Puisi yang bakal aku bedah ini puisiku sendiri wkwk, jadi mon maaf nih ya kalo diksinya biasa aja, maklum masih dalam tahap belajar. Oh iya buat yang belum tau puisinya bisa klik link di bawah ini ya.

https://goresantintaqalbu.wordpress.com/2019/12/16/c-i-n-t-a-sebuah-ibrah-dari-perang-uhud/

Pertama, aku mau cerita dulu nih. Di zaman bahela, hiduplah seorang anak di sebuah negeri antah berantah. Eh maaf ternyata bukan itu ceritanya wkwk. Kali ini, aku mau cerita tentang latar belakang dibuatnya puisi ini.

Jadi, di suatu malam, selepas sholat isya’, sekumpulan anak muda (perempuan) diminta untuk membedah sebuah buku yang berjudul sirah nabawiyah. Jam-jam ini biasanya menjadi jam paling favorit untuk menyelesaikan tugas kuliah, scrolling sosmed, atau terlelap di pulau kapuk yang nyaman. Tapi kala itu, semua seolah terhipnotis dengan buku di tangannya, sembari menyantap beberapa cemilan, mereka tampak asyik membaca. Bagaimana tidak, buku itu berisi kisah tentang manusia yang paling pantas menjadi idola, ya Rasulullah saw. Guruku bilang mempelajari sirah nabawiyah adalah salah satu bukti cinta kepada sang idola.

Apalagi ketika giliran masing-masing memaparkan bab yang telah dibagikan, berbekal antusias mereka menyampaikan kisah dan ibrah (pelajaran) dengan gaya yang dipunya. Kantuk seolah sirna. Setelah sesi pemaparan usai, guruku memberi penugasan, ini yang paling kutunggu, it’s time for challenge. “Ok adek-adek, sekarang, sebelum kita tutup bedah sirah-nya, kakak mau kasih tugas, tugasnya adalah kalian tulis ibrah yang kalian dapatkan dari masing-masing bab yang kalian bahas ke dalam sebuah tulisan, bebas mau bentuknya apa, nanti hasilnya dipost di sosmed ya, biar yang lain juga dapet ilmunya”.

Challenge ini memang tak berhadiah, tapi cinta menggerakkan kami untuk menyelesaikannya. Hari itu aku dapat bagian bab Perang Uhud. Sejujurnya, dalam tulisanku ini, masih banyak hikmah yang belum tersampaikan. Tapi, aku coba ambil sisi menariknya, tentang “CINTA”. Tulisan ini harapannya dapat menjadi refleksi sejarah sekaligus menyelesaikan challenge ini.

Kedua, alasanku menulisnya dalam bentuk puisi adalah karena aku suka puisi. Bagiku, puisi itu bahasa hati, jadi bakal sampai ke hati juga hehe. Puisi itu sarana menasehati tanpa menghakimi, karena kebanyakan puisi itu gak frontal, biasanya disampaikan dengan bahasa kiasan yang sebenarnya hanya dimengerti beberapa orang, makanya aku inisiatif buat bedah puisi ini wkwk.

Ok. Siap? Kita mulai ya

C.I.(N).T.A. Kenapa sih judulnya gak “CINTA” aja? biasa gitu, gak perlu pake kurung-kurungan wkwk. Sebenarnya, makna tersembunyi dari judul ini adalah ketika huruf yang berada di dalam kurung (N) itu menghilang, maka judulnya berubah menjadi CITA. Nah harapannya puisi tentang cinta ini membawa kita untuk merealisasikan cita, yakni dengan memahami makna cinta yang sebenarnya hanya bermuara pada Allah SWT.

Tak asing untuk dikata..⁣
Tak jarang jadi trending topic film remaja..⁣
Pun juga org dewasa
..⁣

Bait pertama ini menjelaskan fenomena saat ini, percaya atau gak, bahasan tentang “cinta” selalu bikin jadi hal yang menarik. Gak kenal usia, mulai dari anak muda sampe yang udah dewasa pasti gak asing sama kata cinta. Film-film yang hits juga kebanyakan tentang cinta. Sedikit cerita, kalo di kelasku udah pada keliatan ngantuk, biasanya beberapa dosen bakal nyinggung tentang “cinta” entah nikah? jodoh? atau bentuk cinta yang lainnya. Intinya auto melek dan semangat kalo udah bahas ginian, bener gak? ini biasanya ya hehe.

Sebenarnya.. Menurut kalian, cinta itu apa?⁣

Nah di bait kedua, aku ingin memancing kalian semua untuk berpikir, menurut kalian sebenarnya cinta itu apa sih? boleh kasih pendapatnya di kolom komentar ya..

Nyatanya, cinta itu.. tak semudah berkata⁣
“I love u” ⁣
Tak sesederhana berucap⁣
“Ana uhibbuka/ki Fillah”⁣
Lebih dari itu..⁣
Bahkan katanya “cinta tanpa sebuah ikhtiar adalah pengkhianatan”. Uhh benarkah?

Pada bait ketiga, aku coba angkat makna cinta yang dipahami pada umumnya, misalnya bilang aku cinta kamu, ana uhibbuka fillah, abdi bogoh ka anjeun, aku tresno karo koe, artinya sama aja ya 🙂 , cuma beda versi bahasa doang. Di sini aku coba kasih pandangan bahwa cinta yang umumnya dipahami adalah cinta sebatas ucapan, makanya banyak yang kemudian terbuai gara-gara janji manis meski hati teriris dan ujung-ujungnya bernasib miris. Wkwk. Padahal cinta tuh gak se-simple itu. Bahkan ada yang bilang, cinta tanpa ikhtiar atau usaha (dalam artian membuktikan cinta) adalah sebuah pengkhianatan. Uhh rada sadis ya, tapi aku setuju sama statement itu. But, buktiinnya kudu dengan cara yang baik ya.

Mari kita berkenalan dengan para pejuang cinta, merekalah para syuhada..

Nah di bait ke empat, aku ingin memperkenalkan kepada kalian, the real pejuang cinta, nah tadi kan sempat disinggung terkait pembuktian cinta dengan cara yang baik. Nih aku kasih contohnya hehe, karena temanya tentang perang uhud, jadi aku ambil teladan para syuhada (orang-orang yang meninggal dalam keadaan syahid). Ini bukan berarti nyuruh perang loh, islam kan rahmatan lil alamin :). Nanti kita cerita ini di lain waktu hehe. Ok, back to the topic, jadi siapakah mereka? Kuy kenalan.

Dialah Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah saw, sang singa Allah yg membela islam hingga akhir hayatnya.

Pejuang cinta pertama adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, salah satu paman Rasulullah saw. Saking cintanya beliau pada Islam, segala keperkasaan, keperwiraan sampe jiwa raganya, ia berikan untuk dakwah Islam. Maka gak heran kalo Hamzah dijuluki singa Allah sebab pembelaannya yang luar biasa terhadap Islam. Saat Perang Uhud, takdir hidupnya telah dicukupkan, ia tercatat sebagai salah satu syuhada. Kalo teman-teman pernah baca sirah, hati kalian mungkin akan teriris ketika dikisahkan tentang kematiannya. Bayangkan dengan teganya, saat itu Hindun memerintahkan Wahsyi bin Harb untuk membunuh Hamzah sebab ingin membalaskan dendam atas kematian ayahnya di Perang Badar. Setelah meninggal, Hindun merobek tubuhnya dengan tombak dan mengambil hatinya untuk dimakan, hidung dan telinganya diiris. Bahkan Rasulullah SAW pun tak kuasa melihat keadaan pamannya dan tak mau melihat wajah Hindun. Meskipun pada akhirnya Hindun masuk Islam. Penasaran bagaimana kisahnya? Baca sirah ya hehe.

Dialah Abu Dujanah, yang membentengi Rasulullah saw dengan tubuhnya, meski puluhan anak panah menghujami punggungnya

Pejuang cinta kedua adalah Abu Dujanah r.a. Ceritanya, di perang Uhud Rasulullah SAW bertanya kepada pasukannya “siapakah di antara kalian yang sanggup mengambil pedang ini dengan haknya?”. Abu Dujanah r.a. pun maju seraya bertanya “apakah hak pedang tersebut ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW berkata “hendaklah kau tebas musuh-musuhmu hingga pedang ini bengkok”. Abu dujanah kemudian berkata “Dengan izin Allah, aku sanggup memenuhi hak pedang itu”. Ia kemudian menerima pedang dari Rasulullah SAW, kemudian mengeluarkan kain merah yang diikatkan di kepalanya (kebiasaan Abu Dujanah r.a. jika ingin berperang sampai mati). Ia pun menunaikan janjinya untuk memenuhi hak pedang itu, cinta membuatnya berani menyambut tantangan Rasulullah saw hingga rela menahan sakit yang teramat sangat ketika melindungi Rasulullah SAW dari hujaman anak panah. Di Perang Uhud, nyawanya masih terselamatkan. Kelak, dikisahkan diakhir hayatnya beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah dengan wajah yang bersinar.

Dialah Mushab bin Umair, saudagar kaya yang diakhir hayatnya, tiada membawa harta apapun bahkan kain kafan yang digunakan tak cukup menutupi tubuhnya..

Pejuang cinta ketiga, Mushab bin Umair. Tak heran jika beliau menjadi duta pertama dalam Islam, semua berkat kecerdasan dan kepiawaiannya dalam berdiplomasi. Sebelum menjadi muslim, ia adalah pemuda kaya keturuan Quraisy. Hidupnya dimanjakan dengan kenikmatan dunia. Hingga keislamannya membuat keluarganya marah dan menyiksanya. Berubahlah kehidupannya. Cintanya membuatnya rela meninggalkan segala kenikmatan yang dahulu dimilikinya. Bahkan di akhir hayatnya, ketika perang Uhud, tak ada sehelai kain pun untuk menutupi jasadnya selain burdah. Andai diletakkan di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Jika ditutupkan kakinya, terbukalah bagian kepalanya. Rasulullah saw sangat sedih dan berkata “Ketika di Mekkah dahulu, tiada seorang pun kulihat lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang, rambutmu kusut masai dan jasadmu hanya terbalut sehelai burdah“. Meskipun demikian, cintanya telah mengantarkannya pada kemuliaan tertinggi bersama para syuhada lainnya.

Dialah Anas bin Nadhar, yang masih berjuang saat banyak yang meninggalkan hanya karena kabar Rasulullah saw tiada yang blm pasti kebenarannya, yang berjuang hingga menghembuskan nafas terakhirnya..⁣

Pejuang cinta keempat, Anas bin Nadhar.⁣ Dikisahkan bahwa dalam keadaan genting kala Perang Uhud. Muncul desas-desus bahwa Rasulullah saw gugur dalam pertempuran yang membuat hati umat muslim terpukul. Orang-orang yang lemah imannya kemudian berkata: “apa gunanya kita disini jika Rasulullah telah gugur?”. Mereka kemudian lari meninggalkan medan pertempuran. Lain halnya dengan Anas bin Nadhar, ia berkata “Bahkan untuk apa lagi kalian hidup sesudah Rasulullah gugur?” Kemudian ia mengatakan “Ya Allah sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang mereka katakan itu. Aku memohon ampun kepadamu atas apa yang mereka ucapkan itu”. Ia pun melesat dengan pedangnya dan menghadapi kaum musyrikin hingga syahid menemuinya. Cintanya telah membuat ia rela berkorban, tak peduli yang dicintainya telah tiada atau masih hidup di dunia.

Dialah Abdullah bin Jubair, pimpinan pasukan pemanah yang tetap setia dengan keputusan syuro’ (musyawarah) untuk tetap berada di atas bukit apapun yg terjadi, meski sebagian pasukannya telah tergoda ghanimah dan turun ke bawah, hingga akhirnya ia gugur bersama syuhada lainnya..⁣

Pejuang cinta kelima, Abdullah bin Jubair dengan kesetiannya dan kepatuhan kepada pimpinannya. Oh iya, dalam sirah dikisahkan bahwa Rasulullah memerintahkan pasukan pemanah untuk tetap berjaga di atas Bukit Uhud apapun yang terjadi, tidak boleh pergi sebelum ada instruksi selanjutnya. Namun sayang, beberapa pasukan tergoda untuk turun ketika mereka mengira bahwa kemenangan sudah ada di depan mata, padahal belum ada intruksi untuk turun ke bawah. Hanya sebagian kecil yang masih menetap dan diantaranya ada Abdullah bin Jubair, ia mengatakan “Aku tidak akan melanggar perintah Rasulullah saw“. Hingga pasukan musuh pun melihat celah dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memporak-porandakan pasukan muslim, semua pemanah yang setia gugur sebagai syahid, termasuk Abdullah bin Jubair. Mereka telah membuktikan kesetiaan cintanya.

Masih banyak lagi pejuang cinta lain yang tak tersebutkan namanya..⁣

Nah, selain lima syuhada ini, masih banyak pejuang cinta lain dengan pembuktian cinta yang luar biasa, buat yang penasaran, baca sirah ya hehe, membaca akan membuat kita keliling dunia tanpa harus menjelajah secara fisik. Oh iya, FYI, beda sirah membuat sedikit perbedaan dalam ceritanya, meski pada intinya tetap sama hehe. Di akhir puisi, aku lampirkan beberapa ibrah yang bisa diambil dari para pejuang cinta ini, tentang rahasia “pembuktian cinta” yang luar biasa itu. Simak ya hehe

Lantas, apa ibrah dari kisah mereka?⁣
Apa yang membuat mereka tak gentar melindungi Rasulullah saw? Apa yang menjadi rahasia dari pengorbanan yang sangat menakjubkan itu?..⁣

Kuncinya hanyalah dua, ⁣
🍁 Iman kepada Allah SWT dan Rasul- Nya⁣
❤ Kecintaan kepada Rasulullah saw⁣

Maka, sudahkah kita mencintai Rasulullah saw?⁣
Sudahkah kita benar-benar mengenal beliau?⁣
Maukah kita menjadi bagian dari para syuhada
?⁣

Kalau begitu, mari kita pantaskan diri..⁣

Ternyata, makna cinta itu luas ya dan sangat dalam. So, gak cuma menjemput jodoh aja butuh memantaskan diri, menjemput ridho Allah juga perlu itu. Semangat hehe, kalo kata Ust. Felix, “panggung hanya untuk orang-orang yang siap”. Mari siapkan diri dan buktikan kalo kita pantas jadi pejuang cinta-Nya. Wallahualam bishowab.

REFERENSI:

Al-Buthy. 2015. The Great Episodes of Muhammad SAW, Menghayati Islam dari Fragmen Kehidupan Rasulullah SAW. Ferdiand Hasmand, M.Z. Arifin, dan Fuad SN, Penerjemah. Jakarta (ID) : Noura Books. Terjemahan dari: Fiqh as-Shirah an-Nabawiyyah Ma’a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah.

5 Comments Add yours

  1. Dodo Nugraha says:

    Apakah ini cerita sedang halaqoh yaa hahaa

    Like

  2. Reski keceee says:

    Sebuah puisi cinta yang bahasa cintanya dalam sekali. Butuh penghayatan, karena ini bukan sekadar kata-kata. Mantap may, lanjutkan berkaryanya hehe

    Like

  3. Rein says:

    Terkadang kita (terutama aku) terlalu sempit mengartikannya kata Cinta ya 😦 Cinta para syuhada kepada Allah dan Rasulnya, sungguh luar biasa. Semoga kita bisa mencintai Allah dan Rasul dengan sebenar benarnya Cinta ya. Aamiin

    Like

  4. Puisi itu salah satu cara terbaik untuk curhat menurut kakak :v pun kalau dak salah Umar bin Khattab ra. Juga pernah menyarankan untuk belajar sastra, Krn itu bakalan memperhalus perasaan kita.
    Tapi yah, gak semua puisi bisa diapresiasi. Maksudnya dibaca, ditafsirkan dan dinilai. Krn bisa jadi puisi itu emang tergolong puisi gelap ‘puisi yang gak ada makna’ atau bisa juga yg membaca gak punya kemampuan untuk menafsirkan puisi itu. Tapi yasudahlah, yg penting kita senang :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s